Kamis, 03 Mei 2012

Ayah Cabuli Anak, Potret Masyarakat "Sakit"

Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait. 
JAKARTA — Kasus pencabulan yang dilakukan oleh NF (50) kepada NV (16), anak kandungnya sendiri hingga hamil enam bulan, merupakan sebuah fenomena sosial yang ada di masyarakat. Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Aris Merdeka Sirait, menyebut kasus tersebut sebagai potret masyarakat yang sedang "sakit".
"Ini harus ditempatkan bukan hanya sekadar kejahatan seksual begitu saja, tapi kejahatan kemanusiaan, apalagi itu dilakukan orangtua kandung terhadap putrinya sendiri sampai hamil. Secara sosial, masyarakat kita sedang sakit," ujarnya saat ditemui di Kantor Komnas PA, Jalan TB Simatupang, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Kamis (3/5/2012).
Secara umum, ia melanjutkan, fenomena tersebut terjadi karena ada kecenderungan penurunan solidaritas perhatian di masyarakat. Artinya, meskipun berada di tempat terbuka, orang tetap berani untuk melakukan kegiatan yang secara etis dianggap menyimpang.
"Artinya apa, pemahaman tentang seks sendiri sudah dianggap biasa, style," lanjutnya.
Faktor lemahnya kontrol sosial, termasuk keluarga terhadap perkembangan teknologi bagi anak, juga merupakan salah satu faktor pendukungnya. "Semakin terbiasa, semakin terbiasa sehingga di ruang publik pun akan berani dilakukan," tegasnya.
Disfungsi keluarga
Secara khusus, aib yang menimpa hubungan sedarah tersebut lebih diakibatkan terjadi disfungsi keluarga. Menurut Arist, sang anak lahir di tengah keluarga yang cacat. Ayah yang mencabulinya diketahui tidak harmonis dengan ibu kandungnya sehingga memiliki istri lagi dan tinggal terpisah. Apalagi, kemampuan ekonomi keluarga tersebut tergolong pas-pasan.
"Keluarga ini tidak harmonis, keluarga ini disfungsi. Akibatnya, pemisahan tempat asuh, pengasuhan yang tidak efektif, akhirnya perkembangan anak pun tidak termonitor dengan baik," ujarnya.
Meski demikian, Arist menegaskan, polisi sebagai penegak hukum tidak pandang bulu melihat permasalahan, apalagi menyangkut masa depan anak di bawah umur yang terancam secara psikologis.
"Saya bukan melihat itu sebagai penyimpangan seksual, tapi sudah kejahatan seksual yang harus dihukum agar pelakunya jera," tegasnya.
Sebelumnya diberitakan, seorang ayah berinisial NF (50), warga Cakung, Jakarta Timur, tega menyetubuhi NV (16), anak ketiga hasil pernikahannya dengan istri pertama, hingga hamil enam bulan. Diketahui NF memiliki dua istri. Dari istri pertama, NF dikaruniai empat orang anak. Anak ketiganya yaitu NV, yang dicabulinya.
Ia mengaku telah lama berpisah dengan istri pertamanya yang bertempat tinggal di daerah Cibitung, Bekasi, Jawa Barat, dan kini ia tinggal dengan istri kedua di Kampung Rawa Teratai, Cakung, Jakarta Timur. Aib tersebut terbongkar saat ibu korban menaruh curiga pada anaknya karena tidak kunjung mengalami siklus kewanitaan.
Oleh sebab itu, ibu korban menanyakan hal tersebut langsung kepadanya hingga akhirnya ia mengaku. Sang ibu kandung lalu menyerahkan pelaku ke Polres Jakarta Timur. Akibat perbuatan bejatnya, NF diancam pasal 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun.

Rabu, 02 Mei 2012

Gadis Ini Dihamili Ayah Kandungnya Sendiri
 ILUSTRASI
JAKARTA — Entah apa yang merasuki NF (50), warga Cakung, Jakarta Timur, ini. Ayah empat anak tersebut tega menyetubuhi NV (16), anak ketiga hasil pernikahannya dengan istri pertamanya. Akibatnya, NV kini hamil enam bulan.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Timur Ajun Komisaris Besar Dian Perry mengungkapkan, sang ayah tega menyetubuhi anaknya sendiri sekitar enam bulan lalu di rumahnya di Kampung Rawa Teratai, Cakung, Jakarta Timur.
"Pelapor berinisial J. Pelaku diserahkan sama pihak keluarga kemarin ke Polres," ujar Dian Perry kepada wartawan di Polrestro Jakarta Timur, Rabu (2/5/2012).
Dian mengatakan, aib tersebut akhirnya terbongkar setelah ibu korban menaruh kecurigaan kepada anaknya karena tidak kunjung mengalami siklus kewanitaan. Oleh sebab itu, ibu korban menanyakan hal tersebut langsung kepada anak gadisnya. Setelah didesak, NV akhirnya  mengaku.
"Ketahuan pertama sama ibunya, 'Kamu kok enggak mens mens? Kok fisiknya berubah?' Karena kondisi si anak perutnya gede," kata Dian, mengutip ibu NV.
Akibat kecurigaan itulah, sang ibu tiri menyerahkan NF ke Polrestro Jakarta Timur. Kini pihak Reserse Kriminal Polrestro Jaktim masih memeriksa intensif tiga orang, yaitu NF, NV, serta istri kedua NF. Akibat perbuatan bejatnya, NF diancam Pasal 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun.

Senin, 30 April 2012

Ibu Tega Siram Air Mendidih ke Anak Gadisnya
 ILUSTRASI
JAKARTA, MEDIA INFORMASI — Malang nian nasib Chyntia Apriliani. Gadis cilik berusia 10 tahun itu menjerit-jerit kesakitan akibat pinggang dan perut sebelah kanannya melepuh. Ternyata, luka itu akibat tersiram air panas yang dilakukan Dina Hutasoit (30), ibu kandungnya sendiri.
Peristiwa memilukan itu terjadi di sebuah rumah kontrakan milik Hidayat (31), suami kedua Dina, alias ayah tiri Chyntia, Sabtu (28/4/2012) sekitar pukul 09.30. Rumah kontrakan sederhana itu terletak di Gang Asmin RT 06 RW 03 Susukan, Ciracas, Jakarta Timur.
Saat ditemui di rumah kontrakannya, Senin (30/4/2012), kepada Kompas.com, bocah yang telah putus sekolah sejak setahun lalu tersebut mengungkapkan kekecewaannya terhadap sang ibu. "Waktu itu di rumah ada mama, Chyntia sama adiknya kakek. Mama marah karena topi mama dibuang sama Sigit (adiknya), dibuang di lubang. Chyntia dipukulin dulu pake gagang sapu badan sama kaki, tiba-tiba mama nyiram air, sakit," katanya.
Setelah disiram air panas ibunya, kulit bagian pinggang, perut, serta pangkal paha sebelah kanan Chyntia seketika melepuh. Karena merasa kesakitan yang tak tertahankan, bocah malang itu lari keluar rumah sambil menjerit-jerit. Para tetangga yang mendengar teriakan Chyntia langsung mencari tahu apa yang terjadi.
Mereka baru menyadari ketika melihat bocah itu berjalan menuju luar rumah sambil menangis. Para tetangga yang peduli langsung melarikan bocah malang itu ke Rumah Sakit Pasar Rebo untuk mendapatkan pertolongan.
Chyntia merupakan anak pertama Dina Hutasoit dari suami pertamanya, Supri, warga Gabus, Babelan, Bekasi. Chyntia sebenarnya ingin disekolahkan oleh Supri di Bekasi, tetapi sejak memasuki kelas III SD, Chyntia dibawa oleh ibunya dan tinggal bersama dengan Hidayat, suami kedua Dina. Dengan suami keduanya, Dina memiliki dua anak, yaitu M Deri Saputra (5) dan Sigit (1,5).
Fatimah (61), nenek Chyntia yang tinggal di dekat rumah keluarga tersebut, mengungkapkan, Dina kerap melakukan tindakan kekerasan terhadap anaknya. Bahkan hanya karena alasan sepele, Dina yang diketahui sehari-hari bekerja di sebuah kafe di bilangan Cipayung, Jakarta Timur, tersebut tega menghajar anaknya sendiri dengan sapu atau tangan kosong. "Iya, sering marah-marah sendiri," ujarnya.
Fatimah mengatakan, alasan yang dikatakan Dina hingga tega menyiram Chyntia dengan air panas merupakan omong kosong. Dia mengatakan, alasan bahwa Dina melakukan itu karena Chyntia merengek meminta susu atau alasan ekonomi adalah upaya menutupi kesalahannya.
"Bohong itu, mana ada anak segede ini minum susu. Itu supaya dia enggak disalah-salahin saja, semua omong kosong," ujarnya.
Sehari setelah kejadian, Dina diketahui pergi ke rumah saudaranya di daerah Kalideres untuk meminta bantuan pengobatan. Hingga Senin siang, Dina belum kembali ke rumah kontrakannya. Oleh sebab itu, Chyntia dijaga oleh sang nenek dan keluarga di sekitarnya.
Chyntia mengaku tak bisa melupakan peristiwa yang menimpanya. Meski mengaku ada sedikit rasa benci dengan ibunya, naluri rindu sang anak ingin bertemu dengan ibunya membuncah dalam hatinya.
"Benci sama mama, galak. Tapi mau ketemu sama mama. Mau minta duit buat berobat," ujarnya polos.
Fatimah mengungkapkan kebingungannya untuk biaya berobat sang cucu. Pekerjaan Hidayat yang hanya seorang kuli bangunan dirasa tak cukup untuk membiayai Chyntia hingga sembuh. Sejak pertama kejadian, ia telah membawa Chyntia ke dokter di Rumah Sakit Pasar Rebo dua kali.
"Ke dokter habis Rp 250.000 sama obat, kemarin berobat Rp 360.000. Buat biaya ke dokter ya kami pinjam uang masjid Rp 500.000. Ya namanya kami orang begini, Mas, mau dari mana lagi?" ujarnya.
Kini, Fatimah hanya bisa pasrah dengan keadaan. Pihak kepolisian dari sektor Ciracas yang sesaat setelah kejadian berada di lokasi tidak mengamankan Dina. Dengan disaksikan Ketua RW 03 Susukan, Dina berjanji dan membuat pertanyaan bahwa tidak akan mengulangi perbuatan kasarnya terhadap sang anak.

Minggu, 29 April 2012

Dalam Seminggu, Tiga Perampokan Bersenpi di Cijantung
 ILUSTRASI
JAKARTA - Aksi perampokan kendaraan bermotor dengan menggunakan senjata api semakin marak terjadi. Di wilayah Cijantung, Pasar Rebo, Jakarta Timur dalam satu minggu terakhir, setidaknya terjadi tiga kali aksi perampokan dengan menodongkan senjata api kepada korbannya. Ironisnya, pihak kepolisian mengaku tidak mengetahui aksi tersebut.
Sandi Yudha (25), warga Jl. Lebak Para RT08 RW 2, Cijantung, Pasar Rebo, Jakarta Timur, merupakan salah satu korban dari kenekatan para pelaku. Saat ditemui di kediamannya, Minggu (29/4/2012) kepada Kompas.com, ia pun menceritakan musibah yang menimpanya pada Kamis (26/4/2012) lalu.
"Jam 20.15 WIB malam saya habis pulang kerja, biasa motor Honda Mega Pro nomor polisinya B6108VIR, saya parkir di halaman, posisinya memang ketutup mobil. Pas saya lagi di dalam, bunyi suara cetok, cetok, kaya orang mukul sesuatu," ujarnya.
Di dalam rumah korban, diketahui hanya ada tiga orang, yaitu korban, ibu korban serta seorang saudaranya. Curiga mendengar bunyi tersebut, ia pun mengintip lewat balik gorden, namun ia masih melihat bagian ban depan sepeda motor yang baru dimiliki selama empat bulan terakhir.
"Tapi kok masih bunyi suara itu, pas saya keluar, nggak taunya sudah ada dua orang, satu di depan motor saya, yang satunya lagi nunggu di depan gerbang. Saya langsung teriak teriak. Hei, kamu maling ya, maling, maling!," lanjutnya.
Beberapa saat kemudian seorang pelaku yang berada di depan motornya langsung menodongkan senjata api ke arah korban tanpa mengatakan sesuatu apapun. Saat tersadar pelaku menodongkan senjata, korban pun panik dan lari ke dalam rumah sambil membanting pintu dan mengintip lewat jendela.
"Ciri-ciri pelaku yang megang pistol, kurus, berkulit hitam, agak tinggi ramping, rambut cepak rada keriting, pake jaket kulit hitam, kalau yang satunya lagi saya nggak sempat lihat. Ya sudah saya teriak-teriak dari dalam rumah, mereka langsung kabur ke arah gongseng," lanjutnya.
Sandi mengungkapkan, salah seorang saudaranya yang tengah nongkrong di salah satu warung dekat rumahnya sempat melihat sekitar lima orang menggunakan tiga motor ngebut ke arah kaburnya pelaku. Namun ia tidak menyadari bahwa ternyata gerombolan tersebut merupakan pelaku perampokan.
Kapolsek Pasar Rebo tidak tahu
Berdasarkan keterangan warga sekitar, peristiwa perampokan dengan menggunakan senjata tajam telah terjadi tiga kali dalam waktu yang sama sekitar pukul 18.00 WIB hingga 21.00 WIB. Dari tiga kejadian, dua motor berhasil digasak sementara satu berhasil digagalkan.
"Di sekitar sini sudah tiga kali, hari kamis malam. Kalo denger dari warga, mereka cerita begitu, ciri-cirinya sama persis kaya yang saya lihat," lanjutnya.
Setelah dikonfirmasi ke Kapolsek Pasar Rebo, Kompol Sutardi, ia mengaku sama sekali tidak mendapat laporan tentang adanya aksi perampokan dengan senjata api di wilayahnya. "Nggak ada mas itu, coba cek aja ke kanit reskrim, nanti saya kasih nomornya kalau nggak percaya, aman-aman saja," ujarnya saat dihubungi.
Pernyataan Kapolsek sempat menjadi keheranan korban, karena beberapa jam setelah musibah tersebut menimpanya, ia melapor ke Polsek Pasar Rebo dan petugas tampak di lokasi untuk menghimpun keterangan. "Paling dua jam setelah kejadian, polisi ramai kok di sini, langsung datang," heran Sandi.
Kini, Sandi yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai bank swasta hanya bisa berharap daerah rumahnya aman dari tindakan perampokan, apalagi dengan menggunakan senjata api.  Ia juga mengharap pihak kepolisian agar mampu menangkap pelaku perampokan.

Sabtu, 28 April 2012

Warga Matraman Jadi Korban Salah Bacok
ILUSTRASI

JAKARTA - Nasib naas menimpa Bayu Prasetya (16) alias Ubay, warga Jalan Bali Matraman, Manggarai, Jakarta Selatan. Ia menjadi sasaran pembacokan saat terjadi tawuran di Gang Sawo IV Ujung Manggarai Selatan, Tebet.

Kepala Seksi humas Polsek Tebet, Aipru Broto Suwarno mengungkapkan, insiden tawuran terjadi sekitar pukul 03.25 WIB, Sabtu (28/4/2012) oleh sekelompok pemuda warga Kebon Sayur, Manggarai dengan warga Gang Sawo, Ujung Manggarai. "Korban sedang duduk-duduk, tiba-tiba ada warga Kebon Sayur sekitar 15 orang datang dan mencari orang yang bernama Bagol, namun tidak ditemukan, maka Ubay yang sedang duduk cekcok mulut dan terjadilah pembacokan," ujarnya saat dihubungi wartawan.

Unit patroli Sabhara dan Reskrim yang dipimpin Kapolsek Tebet Kompol Suyatno langsung ke lokasi untuk membubarkan kerumunan massa dan mengamanankan lokasi. "Ya pas kita ngamanin lokasi, korban terkena bacokkan di bagian pinggang belakang dan langsung dibawa ke RSCM untuk dirawat," lanjut Broto.

Kini, petugas kepolisian telah mengantongi nama pelaku pembacokan tersebut, namun masih melakukan penyelidikan motif serangan tersebut dari para saksi yang berada di lapangan. 

Jumat, 27 April 2012

Otak Pembunuh Mahasiswi UIN Menyerahkan Diri
 
ILUSTRASI
TANGERANG -  Polres Tangerang Kabupaten masih menutupi penangkapan MS alias Oleng (33), tersangka yang diduga otak dari pemerkosaan dan pembunuh mahasiswi semester akhir UIN Ciputat, Jumat (27/4/2012).
Mereka menyatakan, tersangka masih dalam pengejaran. Sementara, pihak keluarga, ayah tersangka mengaku anaknya sendiri yang datang menyerahkan diri ke polisi.
Dalam rilis di Tigaraksa, Kepala Polres Tangerang Kabupaten Komisaris Besar Bambang Priyo Andogo membenarkan lima dari enam tersangka sudah ditangkap. Mereka adalah O, E, C, CS dan NJ.
"Oleng masih kami kejar. Insya Allah pekan depan sudah bisa dipublikasi," ujar Bambang. Dari lima tersangka itu, kata Bambang, petugas menyita labtob, tiga unit motor dan sebilah golok yang diduga digunakan mengorok leher korban hingga tewas.
Pihak keluarga Lain yang dikatakan pihak keluarga. "Anak saya tidak ditangkap polisi. Tetapi, Oleng datang menyerahkan diri ke kantor polisi. Saya sudah bertemu Oleng dan ngobrol-ngobrol dengan dia di penjara," kata Ruhiyat, ayah tersangka di rumahnya di Kecamatan Jambe, Kabupaten Tangerang, Jumat (27/4/2012).
Rukiyat menyatakan dia kaget saat polisi menyatakan, anaknya adalah pelaku utama pemerkosaan dan pembunuh mahasiswi UIN.
Seperti diberitakan sebelumnya, Izzun Nahdliyah (24), mahasiswi semester akhir UIN Ciputat, 6 April lalu, diduga dibunuh secara sadis oleh enam tersangka.
Oleng yang berprofesi sebagai preman di daerah Jambe, Kabupaten Tangerang, dibantu lima orang kaki tangannya saat membunuh Izzun. Pembunuhan itu berlatar belakang pinjam-meminjam laptop. 

Kamis, 26 April 2012

Kapolrestro Jaksel: Banyak yang "Bermain" di Wilayah Jaksel
 Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Baharudin Djafar, Kapolrestro Jaksel Komisaris Besar Imam Sugianto, dan Kasatreskrim Polrestro Jaksel Ajun Komisaris Besar Budi Irawan, di Markas Polres Jaksel

JAKARTA Kepala Polres Metro Jakarta Selatan (Kapolrestro Jaksel) Komisaris Besar Imam Sugianto mengungkapkan, kasus-kasus hukum yang sehari-hari dihadapi pihak kepolisian di wilayah tersebut sebenarnya terhitung sederhana. Namun, kasus berkembang rumit karena orang-orang yang terlibat di dalamnya.

"Kasus-kasus di sini unik. Umumnya kasus sederhana. Tapi, kemudian berkembang jadi besar karena orang-orangnya punya jaringan luas ke mana-mana," kata Komisaris Besar Imam dalam acara pelepasan Kepala Satreskrim Polres Metro Jakarta Selatan yang lama, Ajun Komisaris Besar Budi Irawan, di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel), Rabu (25/4/2012) malam.

Mereka memanfaatkan jaringan, posisi, atau status tertentu untuk menekan pihak lain yang bermasalah dan bahkan pihak penyidik. Dengan jaringan atau status mereka pula, kasus sederhana bisa disorot secara khusus dan dipublikasikan secara luas.

Ia menyebut oknum-oknum yang demikian dengan "orang-orang yang sedang berusaha mengaktualisasi diri". "Jadi, kasus-kasus seperti itulah yang akan dihadapi Pak Hermawan setiap hari," ucapnya, mengingatkan Ajun Komisaris Besar Hermawan, Kepala Satreskrim Polres Metro Jaksel yang baru.

Oleh karena itu, Imam berharap Hermawan sebagai Kepala Satreskrim baru tidak menganggap sepele kasus-kasus kecil yang terjadi di wilayah selatan Jakarta. Hermawan juga diharapkan dapat mencontohi kecepatan kerja pejabat lama Ajun Komisaris Besar Hermawan (AKBP Hermawan).

Sebelumnya, telah diadakan serah terima jabatan kepala satreskrim yang dilangsungkan di Markas Polrestro Jaksel. Pejabat baru AKBP Hermawan sebelumnya menjabat Kepala Satreskrim Polres Tangerang Kota. Sementara itu, AKBP yang telah menjabat Kepala Satreskrim Polres Jaksel selama 1 tahun 6 bulan itu mendapat jabatan baru sebagai perwira bidang hukum di Polda Metro Jaya.